Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

PROPOSAL PKM M (PENGABDIAN MASYARAKAT)



BERIKUT INI ADALAH PROPOSAL PKMM YANG SAYA AJUKAN PADA TAHUN 2012. ALHAMDULILLAH PROPOSAL YANG SEADANYA INI LOLOS DAN DIDANAI DIKTI. SEMOGA DAPAT MEMBANTU TEMEN-TEMEN YANG SEDANG BERENCANA MENYUSUN PROPOSAL PKM. SEMOGA DAPAT MENGAMBIL MANFAAT DARI PROPOSAL INI.SALAM AGRONOMIST !!!
TINGGALKAN PESAN MESKIPUN SEKEDAR SALAM..



PELATIHAN PEMANFAATAN TALAS KIMPUL
SEBAGAI BAHAN BAKU TEPUNG KIMPUL TERMODIFIKASI
DI XX
PKM – M


Diusulkan oleh:
Erick Firmansyah  (10-13872)
Kukuh Andi Luasmoko (10-13524)
Sahid Tri Widagdo (10-13533)



INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2012


Pelatihan Pemanfaatan Talas Kimpul sebagai Bahan Baku Tepung Kimpul Termodifikasi di XX
Oleh : Erick Firmansyah, Kukuh Andi Luasmoko, Sahid Tri Widagdo
ABSTRAK
Ketahanan pangan adalah indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Sebesar  97% penduduk Indonesia adalah konsumen beras dengan rata-rata konsumsi 139 kg/kapita/tahun. Salah satu kebijakan pembangunan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi dan subtitusi jenis bahan pangan. Subtitusi beras dengan terigu bukan solusi tepat karena gandum diperoleh melalui impor . Tanaman umbi-umbian berpotensi menjadi bahan pangan subtitusi beras karena dalam bentuk tepung memiliki kandungan gizi yang setara.
Salah satu jenis umbi yang potensial sebagai sumber karbohidrat adalah talas. XX memiliki potensi produksi talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.) 40 ton/tahun. Pengolahan pasca panen belum dilakukan, sehingga konsumsi masyarakat sedikit dan harga jual rendah. Pengolahan pasca panen talas kimpul terkendala modal dan ketrampilan. Talas kimpul berpotensi diolah menjadi tepung kimpul termodifikasi yang memiliki kandungan gizi dan tekstur yang serupa dengan terigu. Tepung kimpul termodifikasi dapat dikonsumsi masyarakat sebagai bentuk diversifikasi pangan atau dijual dengan peningkatan nilai ekonomi 7-8 kali dibandingkan sebelum diolah.
Melalui Program Kreaatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat yang bermitra dengan XXXX diharapkan masyarakat mampu mengusai ketrampilan pengolahan tepung kimpul termodifikasi dan memproduksinya. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan akan tercapai.

Kata kunci : Xanthosoma sagitifolium Schott., diversifikasi, pasca panen, XX









DAFTAR ISI
HALAMAN KULIT MUKA                                                    
HALAMAN PENGESAHAN                                                                       
ABSTRAK                                                                                                    
DAFTAR ISI                                                                                                 
A.  JUDUL                                                                                                     
B.  LATAR BELAKANG MASALAH                                                         
C.  PERUMUSAN MASALAH                                                                            
D.  TUJUAN                                                                                                
E.   LUARAN YANG DIHARAPKAN                                                                 
F.   KEGUNAAN                                                                                                 
G.  GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN                           
H.  METODE PELAKSANAAN                                                                   
I.     JADWAL KEGIATAN                                                                          
J.     RANCANGAN BIAYA                                                                      
K.  LAMPIRAN
1) BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK                         
2) BIODATA DOSEN PENDAMPING                                                   
3) GAMBARAN TEKNOLOGI YANG DITERAPKEMBANGKAN     
4) SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN BEKERJASAMA                  
5) DENAH LOKASI MITRA KERJA                                                      


A.      JUDUL
Pelatihan Pemanfaatan Talas Kimpul sebagai Bahan Baku Tepung Kimpul Termodifikasi di XX
B.       LATAR BELAKANG MASALAH
Ketahanan pangan merupakan indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Kemampuan produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Keterbatasan produksi pangan menyebabkan Indonesia tergantung pada impor. Jumlah penduduk rawan pangan masih cukup besar, pada tahun 2011 sebesar 13% dari jumlah total penduduk Indonesia atau kurang lebih 30 juta orang (Suryana, 2011).
Sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat berupa beras. Ketergantungan Indonesia terhadap beras yang tinggi, membuat ketahanan pangan nasional sangat rapuh. Dari aspek kebijakan pembangunan makro, kondisi tersebut mengandung resiko (rawan), yang juga terkait dengan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik. Salah satu kebijakan pembangunan pangan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi pangan, yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif bahan pangan sehingga mengurangi ketergantungan terhadap beras (Husodo dan Muchtadi, 2004).
Menurut Kasno (2006) tanaman umbi-umbian merupakan penghasil protein nabati dan karbohidrat yang efisien, murah dan dapat digunakan sebagai subtitusi bahan pangan pokok seperti beras dan terigu. Menurut Richana dan Sunarti (2004) karakteristik rendah kalori umbi segar dapat diatasi dengan memprosesnya menjadi tepung dengan kadar air setara beras aman simpan. Umbi dalam bentuk tepung dengan bobot yang sama dapat memberikan kalori yang sama dengan beras. Kelebihan dari tepung umbi itu sendiri adalah ketahan terhadap dehidrasi yang tinggi, sehinga produk pangan yang di hasilkan dapat lebih lama di simpan, tanpa perubahan tekstur yang berarti.
Tabel 1. Kandungan Gizi Umbi Kimpul per 100 gram Berat Bahan
Kandungan Gizi (Satuan)
Jumlah
Kandungan Gizi (Satuan)
Jumlah
Energi (kal)
145
Fe (mg)
1,4
Protein (g)
1,2
Karoten
0
Lemak (g)
0,4
Vitamin B1 (mg)
0,1
Hidrat arang (g)
34,2
Vitamin C (mg)
2
Kalsium (mg)
26
Air (g)
63,1
Fosfor (mg)
54
Abu (g)
1
Sumber : Slamet D.S dan I.G. Tarmotjo (1980) dalam Lingga (1995)
Belah adalah desa paling barat Kabupaten XX. Sebagian besar masyarakat XX bermata pencaharian sebagai petani lahan kering. Kondisi lingkungan yang kurang mendukung untuk budidaya padi dan tidak adanya sistem irigasi teknis membuat sebagian besar kebutuhan pangan pokok didatangkan dari daerah lain. Padi hanya dapat dibudidayakan satu kali dalam setahun, yaitu pada musim penghujan.
XX memiliki sumber bahan pangan yang potensial dikembangkan, antara lain adalah umbi-umbian seperti talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.). Talas kimpul biasa ditanam di sekitar pemukiman, lahan tegalan maupun di sela tanaman tahunan. Produktivitas talas kimpul di XX cukup baik yaitu 5-15 kg umbi per rumpun yang dipanen 9 bulan setelah ditanam. Talas kimpul mudah dibudidayakan, cukup dibersihkan dari gulma dan dilakukan pemupukan kompos satu kali pada awal penanaman. Talas kimpul tidak membutuhkan air sebanyak padi sawah. Bahan tanam yang digunakan adalah umbinya dengan jarak tanam 50x70 cm.
 Sebagian besar hasil talas kimpul di XX dijual langsung dalam bentuk mentah tanpa melalui pengolahan pasca panen. Harga jual umbi talas kimpul sekitar Rp. 1.000,00 – Rp. 1.500,00. Harga tersebut tidak memberikan keuntungan yang signifikan untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Padahal apabila dapat dikembangkan, talas kimpul dapat dimanfaatkan untuk subtitusi beras dan mendatangkan keuntungan ekonomis bagi masyarakat.
Pada saat ini telah ditemukan teknologi pengolahan talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi, sebagaimana terlampir pada Lampiran 3. Pada awalnya teknologi ini diterapkan untuk mengolah singkong menjadi Mocaf (Modified Cassava Fluor), namun pada perkembangannya telah diterapkan pula pada pengolahan umbi – umbi yang lain, termasuk talas kimpul. Apabila talas kimpul dapat diolah menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi maka harga jualnya naik menjadi Rp. 8.000,00 hingga          Rp. 10.000,00 atau 7 – 8 kali lipat dari harga sebelum diolah.
Dewasa ini, Kelompok Tani menjadi organisasi strategis dalam menmpercepat terwujudnya kesejahteraan petani di pedesaan. Untuk itu peran, fungsi dan kedudukan Kelompok Tani harus terus ditingkatkan. Usaha untuk meningkatkan derajat ekonomi dan kesejahteraan petani desa harus melibatkan kelompok tani.
Melalui kegiatan pelatihan pemanfaatan Tepung Kimpul Termodifikasi, XXdiharapkan mampu memperbaiki aspek yang menjadi kendala pengolahan pasca panen berupa pengetahuan, teknologi dan sarana prasarana. Pada akhirnya XXdapat menjadi motor penggerak kegiatan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut. Koordinasi yang baik antar petani melalui kelompok tani akan menjamin keberlanjutan produksi Tepung Kimpul Termodifikasi.
C.      PERUMUSAN MASALAH
Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan syarat mutlak bagi kesejahteraan masyarakat. Karbohidrat merupakan sumber pangan yang penting. Angka ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat masih tinggi. Telah ditemukan teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi tepung termodifikasi yang dapat menjadi subtitusi beras. XX dan XXberpotensi memproduksi tepung kimpul termodifikasi, namun masih mengalami kendala pengetahuan, teknologi dan modal pengadaan sarana produksi sehingga diperlukan bantuan pelatihan dan pengadaan sarana produksi.
D.      TUJUAN
Dengan dilaksanakannya program ini diharapkan :
1.        Petani anggota XXdapat menguasai pengetahuan dan teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi tepung kimpul termodifikasi.
2.        Petani anggota XXmampu memproduksi tepung kimpul termodifikasi dengan sarana yang tepat sehingga nilai ekonomi komoditas talas kimpul naik menjadi 7 – 8 kali lipat.
3.        Meningkatkan peran XXsebagai wadah bagi petani dalam produksi tepung kimpul termodifikasi.
4.        Meningkatkan kesejahteraan petani talas kimpul XX melalui peningkatan harga jual produk olahan talas kimpul berupa tepung kimpul termodifikasi.
5.        Mendukung terciptanya ketahanan pangan melalui program diversifikasi pangan.

E.       LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari program ini adalah terciptanya keterampilan petani anggota XXXX dalam mengolah umbi talas kimpul menjadi produk Tepung Kimpul Termodifikasi.

F.       KEGUNAAN
Manfaat Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat ini adalah :
1.    Dari sisi ekonomi         : Meningkatkan nilai ekonomi komoditas talas kimpul menjadi 7 – 8 kali lipat daripada sebelum diolah menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi.
2.    Dari sisi IPTEKS         : Dikuasainya teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi kepada petani.
3.    Dari sisi sosial              : Wujud kontribusi masyarakat terhadap Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2009 yang mengamanatkan kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan kebijakan diversifikasi pangan yang mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional.
G.      GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
Belah merupakan suatu desa diXXyang terletak  + 41 km dari kota XX. Topografi XX berbukit-bukit  dan berada + 450 meter di atas permukaan laut. Secara administratif, XX terbagi menjadi 12 dusun dan setiap dusun terdiri dari 40 – 70 kepala keluarga. Penduduk XX berjumlah 2.769 orang. Makanan pokok masyarakat XX adalah beras. (Monografi Desa, 2011).
Sekitar 80% penduduk XX bermata pencaharian sebagai petani. Petani di XX diwadahi dalam Kelompok Tani Karya Manunggal. Selama ini XXberperan dalam menyediakan sarana produksi pertanian namun belum berperan dalam penanganan pasca panen. XXdidirikan pada tahun 2003 dilandasi atas kebutuhan petani terhadap suatu wadah yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraannya. Setelah memasuki tahun ke 10 sejak berdirinya, XXtelah mengalami banyak perkembangan. Saat ini memiliki 146 anggota, kantor operasional serta gudang. Untuk menjalankan kegiatan sehari – hari, XXdikelola oleh seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa kepala bidang.
Komoditas utama yang menjadi andalan sumber pendapatan petani adalah palawija dan cengkih. Petani juga menanam beberapa jenis tanaman semusim sebagai hasil sampingan, salah satu yang banyak ditanam adalah talas kimpul. Kondisi tanah dan iklim XX sesuai dengan syarat tumbuh talas kimpul, sehingga produktivitasnya tinggi. Setiap rumpun talas kimpul dapat menghasilkan 5 – 15 kg umbi setelah usia tanam 6 bulan. Talas kimpul banyak ditanam di pekarangan, tegalan dan di antara tanaman kayu.
Pengolahan pasca panen umbi talas kimpul masih belum dilakukan, selama ini hasil talas kimpul dijual langsung dalam keadaan basah sehingga nilai jualnya rendah. Umbi basah talas kimpul apabila tidak segera terjual akan mudah rusak sehingga menurunkan nilai dan mutunya. Padahal talas kimpul sebagai salah satu sumber karbohidrat memiliki prospek ekonomi yang baik apabila dikembangkan menjadi produk turunan yang lain. Apabila kendala pengolahan talas kimpul ini mendapat solusi yang tepat maka akan berdampak positif bagi petani di XX karena akan meningkatkan pendapatan.
Salah satu solusi yang tepat untuk meningkatkan nilai ekonomi talas kimpul adalah mengolahnya menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi dengan bagan teknologi sebagaimana terlampir pada lampiran 3. Tepung Kimpul Termodifikasi ini memiliki tekstur dan rasa yang menyerupai terigu sehingga dapat mensubtitusi bahan pangan beras dan terigu. Tepung Kimpul Termodifikasi dapat digunakan sebagai bahan baku mi, roti, kue dan makanan lainnya.
Kegiatan produksi Tepung Kimpul Termodifikasi di XX melibatkan XX sebagai wadah kegiatan dan koordinasi antar petani. Apabila tepung kimpul termodifikasi dapat diproduksi, selain dapat dikonsumsi sendiri, dapat juga dipasarkan kepada masyarakat di sekitar XX. Tepung Kimpul Termodifikasi dapat dipasarkan dengan harga yang lebih murah daripada tepung terigu, dan petani tetap memperoleh keuntungan yang lebih layak dibandingkan menjual dalam keadaan basah.
H.      METODE PELAKSANAAN
Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) ini, bertujuan mentransfer pengetahuan dan teknologi sekaligus memberi pembiayaan program dengan menggunakan anggaran yang diberikan Dikti. Untuk melakukan hal tersebut, dilakukan kerjasama kemitraan dengan Kelompok Tani Karya Manunggal.
Pelaksanaan program pelatihan pemanfaatan talas kimpul menjadi tepung talas kimpul termodifikasi ini dapat dijabarkan dalam tiga tahap. Tahap pertama adalah tahap survei potensi produksi talas kimpul dan  ketersediaan umbi talas kimpul. Tahap kedua adalah tahap penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada petani anggota XXtentang teknologi pengolahan yang akan diterapkan. Tahap ketiga adalah proses produksi Tepung Kimpul Termodifikasi.
Tahap Survei
Tahap survei ini dilaksanakan untuk mengetahui jumlah produksi dan ketersediaan talas kimpul di XX. Hasil survei ini digunakan untuk menentukan periode produksi dan kapasitas alat yang akan digunakan. Metode survei yang digunakan adalah melalui survei lapangan kepada petani anggota Kelompok Tani Karya Manunggal.
Setelah dilakukan survey, didapatkan hasil yaitu jumlah produksi talas kimpul di XX adalah + 40 ton/tahun. Penanaman talas kimpul di XX dilakukan tidak secara bersamaan sehingga masa panennya juga tidak bersamaan. Umbi kimpul dapat tersedia setiap bulan dalam jumlah + 3,3 ton. Dari jumlah tersebut, 3 ton umbi akan diproses menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi.
Tahap Penyuluhan, Pelatihan dan Pendampingan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan dalam suatu forum diskusi di Balai Desa dengan pembicara dari  pihak pengusul Program Kreativitas Mahasiswa pengabdian masyarakat (PKM-M). Hal yang dilakukan pada tahap penyuluhan adalah mengenalkan teknologi pengolahan talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi. Teknologi tersebut meliputi alat, bahan yang dibutuhkan dan langkah produksi Tepung Kimpul Termodifikasi. Tujuan yang akan dicapai adalah petani anggota XXdapat mengetahui dan mempraktekkan cara pengolahan umbi talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi.
Lokasi  produksi telah disediakan oleh pihak pemerintahan XX dan telah memenuhi kriteria ideal. Lokasi produksi yang ideal adalah suatu bangunan permanen yang telah memiliki jaringan listrik, jaringan air dan saluran penanganan limbah.
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan Tepung Kimpul Termodifikasi yaitu sikat/brush, mesin pemotong (slasher), drum plastik, penyaring ukuran 60 mesh, neraca duduk kapasitas 100kg. Peralatan laboratorium yang dibutuhkan yaitu gelas ukur, pengaduk dan corong. Peralatan dapur yang dibutuhkan berupa pisau, bak plastik dan gayung.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Tepung Kimpul Termodifikasi yaitu umbi talas kimpul, air, starter bakteri asam laktat, natrium metabisulfit, asam sitrat dan asam askorbat. Bakteri asam laktat berperan memecah rantai molekul peptin yang ada pada umbi talas kimpul menjadi molekul yang lebih sederhana, sehingga menghasilkan tepung yang mempunyai kemiripan tekstur dengan terigu. Natrium metabisulfit merupakan zat pengawet makanan yang dapat mempertahankan kualitas bahan pangan. Asam sitrat adalah zat kimia yang padat menghilangkan bau khas umbi kimpul sehingga produk yang dihasilkan memiliki bau yang netral. Asam askorbat atau vitamin C adalah salah satu jenis anti oksidan yang dapat mencegah atau menghambat reaksi pencoklatan (browning reaction) pada umbi talas saat tahap pengeringan sehingga produk yang dihasilkan memiliki warna yang putih. (Suismono et al, 2007).

Dari 1kg umbi talas kimpul dapat menghasilkan 350-400 gr Tepung Kimpul Termodifikasi (Suismono et al, 2007). Jumlah rendemen yang diperoleh dipengaruhi oleh umur dan kadar air umbi. Umbi berumur tua dan dipanen pada musim kemarau memiliki kandungan karbohidrat tertinggi.
Menurut (Suismono et al, 2007), langkah produksi Tepung Kimpul Termodifikasi adalah :
1.    Mensortasi umbi talas kimpul. Umbi yang digunakan adalah umbi yang sehat, besar, tidak ada luka dan masih segar.
2.    Membersihkan umbi talas kimpul dari sisa tanah dan kotoran dengan sikat/brush dan air.
3.    Mengupas kulit umbi talas kimpul dengan pisau kupas.
4.    Membersihkan umbi dari sisa-sisa kotoran yang masih tertinggal dengan sikat/brush dan air.
5.    Memotong umbi talas kimpul menjadi potongan setebal 0,5 - 1 cm.
6.    Memasukkan potongan umbi talas kimpul ke dalam tong.
7.    Merendam potongan umbi talas kimpul dalam larutan starter bakteri asam laktat (BAL) sebanyak 5 ml/liter air selama 6 jam.
8.    Merendam ke dalam air yang ditambahkan natrium metabisulfit dan asam askorbat dan asam sitrat masing – masing 3ml/liter air selama 30 menit
9.    Meniriskan kembali potongan umbi talas kimpul.
10.    Menjemur potongan umbi kimpul dibawah terik matahari selama 3 hari (kadar air 12-14%).
11.    Menggiling potongan umbi talas kimpul yang telah kering dengan mesin penepung beras.
12.    Mengayak tepung dengan saringan 60 mesh, sehingga didapatkan tepung yang halus dan seragam.
13.    Mengemas Tepung Kimpul Termodifikasi dalam kemasan 500 gr.
Tahap Produksi
Periode produksi Tepung Kimpul Termodifikasi adalah satu kali setiap dua minggu dengan kapasitas 1,5 ton/periode produksi atau 3 ton/bulan. Pada setiap produksi, tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 10 orang. Tenaga kerja berasal dari anggota XXmelalui sistem gilir. Sehingga setiap bulan, XXdapat menghasilkan 1,05 – 1,2 ton Tepung Kimpul Termodifikasi. Total nilai ekonomi yang diperoleh dengan asumsi harga per kilogram Tepung Kimpul Termodifikasi Rp. 8000,00 adalah Rp. 8.400.000,00 hingga Rp. 9.600.000,00.

I.     JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan ini dilaksanakan dalam waktu 3 (tiga) bulan. Jadwal kegiatan disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Jadwal Kegiatan
No
Jenis Kegiatan
Tahun 2013
Bulan ke-1
Bulan ke-2
Bulan ke-3
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Tahap persiapan
a.    Studi pustaka
b.    Menjalin kemitraan












2
Tahap Survei
a.    Survei produksi
b.    Survei ketersediaan












3
Tahap Penyuluhan, Pelatihan, dan Pendampingan
a.    Tahap I
b.    Tahap II












4
Tahap Produksi
a.    Persiapan sarana
b.    Produksi












5
Tahap Pelaporan
a.    Penulisan laporan
b.    Penyerahan laporan













J.    RANCANGAN BIAYA
Rencana anggaran biaya untuk melaksanakan kegiatan ini adalah  Rp. XXdengan perincian pada Tabel 3.
Tabel 3. Rancangan Biaya
No
Jenis alat/bahan
volume
Satuan
Harga Satuan (Rp.)
Biaya (Rp.)
A.
PERALATAN PENUNJANG PKM
1
Sikat (brush)
10
Buah


2
Mesing Pemotong (slasher)
2
Buah


3
Drum Plastik kapasitas 100 kg
15
Buah


4
Timbangan duduk 100 kg
1
Buah


5
Penyaring 60 mesh 50x50 cm
10
Buah


6
Gelas Ukur 1000 ml
2
Buah


7
Corong plastik
2
Buah


8
Pengaduk
2
Buah


9
Pisau Kupas
10
Buah


10
Bak plastik 50 liter
10
Buah


11
Gayung plastik
5
Buah


Jumlah Biaya

B.
BAHAN HABIS PAKAI
1
Umbi talas kimpul
1.500
kilogram


2
Starter Bakteri Asam Laktat
5
liter


3
Natrium metabisulfit
3
liter


4
Asam askorbat
3
kilogram


5
Plastik kemasan 500 gram
35
Pcs.


Jumlah biaya

C.
PERJALANAN
1
Yogyakarta – XX
5
kali


2
Survey bahan baku
3
kali


3
Perjalanan pembelian alat
3
kali


Jumlah biaya

D.
LAIN - LAIN




1
Biaya print laporan
100
lembar


2
Jilid laporan
4
buah


3
Konsumsi
1.    Pertemuan tahap survei
2.    Pertemuan tahap penyuluhan, pelatihan
dan pendampingan
2
2


kali
kali




Jumlah biaya

Jumlah biaya yang diperlukan (A + B + C + D)



   GAMBARAN TEKNOLOGI YANG DITERAPKEMBANGKAN DALAM PENGOLAHAN TALAS KIMPUL MENJADI TEPUNG KIMPUL TERMODIFIKASI 

       SURAT PERNYATAAN KESEDIAAN BEKERJASAMA

 DENAH LOKASI MITRA KERJA

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar