BERIKUT INI ADALAH PROPOSAL PKMM YANG SAYA AJUKAN PADA TAHUN 2012. ALHAMDULILLAH PROPOSAL YANG SEADANYA INI LOLOS DAN DIDANAI DIKTI. SEMOGA DAPAT MEMBANTU TEMEN-TEMEN YANG SEDANG BERENCANA MENYUSUN PROPOSAL PKM. SEMOGA DAPAT MENGAMBIL MANFAAT DARI PROPOSAL INI.SALAM AGRONOMIST !!!
TINGGALKAN PESAN MESKIPUN SEKEDAR SALAM..
PELATIHAN PEMANFAATAN TALAS KIMPUL
SEBAGAI BAHAN BAKU TEPUNG KIMPUL TERMODIFIKASI
DI XX
PKM
– M
Diusulkan
oleh:
Erick Firmansyah (10-13872)
Kukuh Andi Luasmoko (10-13524)
Sahid Tri Widagdo (10-13533)
INSTITUT
PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2012
Pelatihan
Pemanfaatan Talas Kimpul sebagai Bahan Baku Tepung Kimpul Termodifikasi di XX
Oleh : Erick Firmansyah, Kukuh
Andi Luasmoko, Sahid Tri Widagdo
ABSTRAK
Ketahanan pangan adalah indikator keberhasilan
pembangunan suatu negara. Sebesar 97%
penduduk Indonesia adalah konsumen beras dengan rata-rata konsumsi 139
kg/kapita/tahun. Salah satu kebijakan pembangunan dalam mencapai
ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi dan
subtitusi jenis bahan pangan. Subtitusi
beras dengan terigu bukan solusi tepat karena gandum diperoleh melalui impor . Tanaman
umbi-umbian berpotensi menjadi bahan pangan subtitusi beras karena dalam bentuk
tepung memiliki kandungan gizi yang setara.
Salah satu jenis umbi yang potensial sebagai sumber
karbohidrat adalah talas. XX memiliki potensi produksi talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.) 40 ton/tahun. Pengolahan pasca panen belum dilakukan, sehingga konsumsi
masyarakat sedikit dan harga jual rendah. Pengolahan pasca panen talas kimpul
terkendala modal dan ketrampilan. Talas kimpul berpotensi diolah menjadi tepung
kimpul termodifikasi yang memiliki kandungan gizi dan tekstur yang serupa
dengan terigu. Tepung kimpul termodifikasi dapat dikonsumsi masyarakat sebagai
bentuk diversifikasi pangan atau dijual dengan peningkatan nilai ekonomi 7-8
kali dibandingkan sebelum diolah.
Melalui Program Kreaatifitas Mahasiswa Pengabdian
Masyarakat yang bermitra dengan XXXX diharapkan masyarakat mampu mengusai
ketrampilan pengolahan tepung kimpul termodifikasi dan memproduksinya. Pada
akhirnya, kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan akan tercapai.
Kata kunci : Xanthosoma
sagitifolium Schott., diversifikasi, pasca panen, XX
DAFTAR ISI
HALAMAN KULIT MUKA
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
DAFTAR ISI
A.
JUDUL
B.
LATAR BELAKANG MASALAH
C.
PERUMUSAN MASALAH
D.
TUJUAN
E.
LUARAN YANG DIHARAPKAN
F.
KEGUNAAN
G.
GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
H.
METODE PELAKSANAAN
I.
JADWAL KEGIATAN
J.
RANCANGAN BIAYA
K. LAMPIRAN
1) BIODATA KETUA DAN ANGGOTA KELOMPOK
2) BIODATA DOSEN PENDAMPING
3) GAMBARAN TEKNOLOGI YANG DITERAPKEMBANGKAN
4) SURAT PERNYATAAN
KESEDIAAN BEKERJASAMA
5) DENAH LOKASI MITRA KERJA
A.
JUDUL
Pelatihan Pemanfaatan Talas Kimpul sebagai Bahan Baku Tepung Kimpul
Termodifikasi di XX
B. LATAR BELAKANG MASALAH
Ketahanan
pangan merupakan indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Kemampuan
produksi pangan dalam negeri dari tahun ke tahun semakin terbatas. Keterbatasan
produksi pangan menyebabkan Indonesia tergantung pada impor. Jumlah penduduk
rawan pangan masih cukup besar, pada tahun 2011 sebesar 13% dari jumlah total
penduduk Indonesia atau kurang lebih 30 juta orang (Suryana, 2011).
Sebagian
besar masyarakat Indonesia selama ini memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber
karbohidrat berupa beras. Ketergantungan Indonesia terhadap beras yang tinggi,
membuat ketahanan pangan nasional sangat rapuh. Dari aspek kebijakan
pembangunan makro, kondisi tersebut mengandung resiko (rawan), yang juga
terkait dengan stabilitas ekonomi, sosial, dan politik. Salah satu kebijakan
pembangunan pangan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi
pangan, yang dimaksudkan untuk memberikan alternatif bahan pangan sehingga
mengurangi ketergantungan terhadap beras (Husodo
dan Muchtadi, 2004).
Menurut
Kasno (2006) tanaman umbi-umbian merupakan penghasil protein nabati dan
karbohidrat yang efisien, murah dan dapat digunakan sebagai subtitusi
bahan pangan pokok seperti beras dan terigu. Menurut Richana dan
Sunarti
(2004) karakteristik rendah kalori umbi
segar dapat diatasi dengan memprosesnya menjadi tepung
dengan kadar air setara beras aman simpan. Umbi
dalam bentuk tepung dengan bobot yang sama dapat memberikan
kalori yang sama dengan beras. Kelebihan dari tepung umbi itu sendiri adalah
ketahan terhadap dehidrasi yang tinggi, sehinga produk pangan yang di hasilkan
dapat lebih lama di simpan, tanpa perubahan
tekstur yang berarti.
Tabel
1. Kandungan Gizi Umbi Kimpul per 100 gram
Berat Bahan
|
Kandungan Gizi (Satuan)
|
Jumlah
|
Kandungan Gizi (Satuan)
|
Jumlah
|
|
Energi
(kal)
|
145
|
Fe
(mg)
|
1,4
|
|
Protein
(g)
|
1,2
|
Karoten
|
0
|
|
Lemak
(g)
|
0,4
|
Vitamin
B1 (mg)
|
0,1
|
|
Hidrat
arang (g)
|
34,2
|
Vitamin
C (mg)
|
2
|
|
Kalsium
(mg)
|
26
|
Air
(g)
|
63,1
|
|
Fosfor
(mg)
|
54
|
Abu
(g)
|
1
|
Sumber
: Slamet D.S dan I.G. Tarmotjo (1980) dalam Lingga (1995)
Belah adalah desa paling barat Kabupaten XX. Sebagian besar masyarakat XX bermata pencaharian sebagai petani
lahan kering. Kondisi lingkungan yang kurang mendukung untuk budidaya padi dan
tidak adanya sistem irigasi teknis membuat sebagian besar kebutuhan pangan
pokok didatangkan dari daerah lain. Padi hanya dapat dibudidayakan satu kali
dalam setahun, yaitu pada musim penghujan.
XX memiliki sumber bahan pangan yang potensial dikembangkan, antara lain
adalah umbi-umbian seperti talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.). Talas kimpul biasa ditanam di sekitar pemukiman, lahan tegalan maupun di sela
tanaman tahunan. Produktivitas talas kimpul di XX cukup baik yaitu 5-15 kg umbi
per rumpun yang dipanen 9 bulan setelah ditanam. Talas kimpul mudah
dibudidayakan, cukup dibersihkan dari gulma dan dilakukan pemupukan kompos satu
kali pada awal penanaman. Talas kimpul tidak membutuhkan air sebanyak padi
sawah. Bahan tanam yang digunakan adalah umbinya dengan jarak tanam 50x70 cm.
Sebagian besar hasil talas kimpul di
XX dijual langsung dalam bentuk mentah tanpa melalui pengolahan pasca panen.
Harga jual umbi talas kimpul sekitar Rp. 1.000,00 – Rp. 1.500,00. Harga
tersebut tidak memberikan keuntungan yang signifikan untuk meningkatkan
kesejahteraan petani. Padahal apabila dapat dikembangkan, talas kimpul dapat
dimanfaatkan untuk subtitusi beras dan mendatangkan keuntungan ekonomis bagi
masyarakat.
Pada saat ini telah ditemukan teknologi pengolahan talas kimpul menjadi
Tepung Kimpul Termodifikasi, sebagaimana terlampir pada Lampiran 3. Pada
awalnya teknologi ini diterapkan untuk mengolah singkong menjadi Mocaf (Modified Cassava Fluor), namun pada
perkembangannya telah diterapkan pula pada pengolahan umbi – umbi yang lain,
termasuk talas kimpul. Apabila talas kimpul dapat diolah menjadi Tepung Kimpul
Termodifikasi maka harga jualnya naik menjadi Rp. 8.000,00 hingga Rp. 10.000,00 atau 7 – 8 kali lipat
dari harga sebelum diolah.
Dewasa ini, Kelompok Tani menjadi organisasi strategis dalam menmpercepat
terwujudnya kesejahteraan petani di pedesaan. Untuk itu peran, fungsi dan
kedudukan Kelompok Tani harus terus ditingkatkan. Usaha untuk meningkatkan
derajat ekonomi dan kesejahteraan petani desa harus melibatkan kelompok tani.
Melalui
kegiatan pelatihan pemanfaatan Tepung Kimpul Termodifikasi, XXdiharapkan mampu
memperbaiki aspek yang menjadi kendala pengolahan pasca panen berupa
pengetahuan, teknologi dan sarana prasarana. Pada akhirnya XXdapat menjadi
motor penggerak kegiatan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
daerah tersebut. Koordinasi yang baik antar petani melalui kelompok tani akan
menjamin keberlanjutan produksi Tepung Kimpul Termodifikasi.
C.
PERUMUSAN
MASALAH
Pemenuhan kebutuhan pangan merupakan syarat mutlak bagi kesejahteraan
masyarakat. Karbohidrat merupakan sumber pangan yang penting. Angka
ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat masih tinggi. Telah
ditemukan teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi tepung termodifikasi
yang dapat menjadi subtitusi beras. XX dan XXberpotensi memproduksi tepung
kimpul termodifikasi, namun masih mengalami kendala pengetahuan, teknologi dan
modal pengadaan sarana produksi sehingga diperlukan bantuan pelatihan dan
pengadaan sarana produksi.
D.
TUJUAN
Dengan dilaksanakannya program ini diharapkan :
1.
Petani anggota XXdapat menguasai pengetahuan dan teknologi pengolahan umbi
talas kimpul menjadi tepung kimpul termodifikasi.
2.
Petani anggota XXmampu memproduksi tepung kimpul termodifikasi dengan sarana
yang tepat sehingga nilai ekonomi komoditas talas kimpul naik menjadi 7 – 8
kali lipat.
3.
Meningkatkan peran XXsebagai wadah bagi
petani dalam produksi tepung kimpul termodifikasi.
4.
Meningkatkan kesejahteraan petani talas
kimpul XX melalui peningkatan harga jual produk olahan talas kimpul berupa
tepung kimpul termodifikasi.
5.
Mendukung terciptanya ketahanan pangan
melalui program diversifikasi pangan.
E. LUARAN YANG DIHARAPKAN
Luaran yang diharapkan dari program
ini adalah terciptanya keterampilan petani anggota XXXX dalam mengolah umbi talas
kimpul menjadi produk Tepung Kimpul Termodifikasi.
F. KEGUNAAN
Manfaat Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat ini adalah :
1.
Dari sisi ekonomi :
Meningkatkan nilai ekonomi komoditas talas kimpul menjadi 7 – 8 kali lipat
daripada sebelum diolah menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi.
2.
Dari sisi IPTEKS : Dikuasainya
teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi
kepada petani.
3. Dari sisi
sosial : Wujud kontribusi
masyarakat terhadap Peraturan Presiden (Perpres) No.
22 Tahun 2009 yang mengamanatkan kebijakan percepatan penganekaragaman konsumsi
pangan berbasis sumber daya lokal dan kebijakan diversifikasi pangan yang mendukung terciptanya ketahanan
pangan nasional.
G. GAMBARAN UMUM MASYARAKAT
SASARAN
Belah
merupakan suatu desa diXXyang terletak + 41
km dari kota XX. Topografi XX berbukit-bukit dan berada + 450
meter di atas permukaan laut. Secara administratif, XX terbagi menjadi 12 dusun dan setiap dusun
terdiri dari 40 – 70 kepala keluarga. Penduduk XX berjumlah 2.769 orang. Makanan
pokok masyarakat XX adalah beras. (Monografi Desa, 2011).
Sekitar 80% penduduk XX bermata pencaharian sebagai petani. Petani di XX
diwadahi dalam Kelompok Tani Karya Manunggal. Selama ini XXberperan dalam
menyediakan sarana produksi pertanian namun belum berperan dalam penanganan
pasca panen. XXdidirikan pada tahun 2003 dilandasi atas kebutuhan petani
terhadap suatu wadah yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraannya. Setelah
memasuki tahun ke 10 sejak berdirinya, XXtelah mengalami banyak perkembangan.
Saat ini memiliki 146 anggota, kantor operasional serta gudang. Untuk
menjalankan kegiatan sehari – hari, XXdikelola oleh seorang ketua, sekretaris,
bendahara, dan beberapa kepala bidang.
Komoditas utama yang menjadi andalan sumber pendapatan petani adalah
palawija dan cengkih. Petani juga menanam beberapa jenis tanaman semusim
sebagai hasil sampingan, salah satu yang banyak ditanam adalah talas kimpul.
Kondisi tanah dan iklim XX sesuai dengan syarat tumbuh talas kimpul, sehingga
produktivitasnya tinggi. Setiap rumpun talas kimpul dapat menghasilkan 5 – 15
kg umbi setelah usia tanam 6 bulan. Talas kimpul banyak ditanam di pekarangan,
tegalan dan di antara tanaman kayu.
Pengolahan pasca panen umbi talas kimpul masih belum dilakukan, selama ini
hasil talas kimpul dijual langsung dalam keadaan basah sehingga nilai jualnya
rendah. Umbi basah talas kimpul apabila tidak segera terjual akan mudah rusak
sehingga menurunkan nilai dan mutunya. Padahal talas kimpul sebagai salah satu
sumber karbohidrat memiliki prospek ekonomi yang baik apabila dikembangkan menjadi
produk turunan yang lain. Apabila kendala pengolahan talas kimpul ini mendapat
solusi yang tepat maka akan berdampak positif bagi petani di XX karena akan
meningkatkan pendapatan.
Salah satu solusi yang tepat untuk meningkatkan nilai ekonomi talas kimpul
adalah mengolahnya menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi dengan bagan teknologi
sebagaimana terlampir pada lampiran 3. Tepung Kimpul Termodifikasi ini memiliki
tekstur dan rasa yang menyerupai terigu sehingga dapat mensubtitusi bahan
pangan beras dan terigu. Tepung Kimpul Termodifikasi dapat digunakan sebagai
bahan baku mi, roti, kue dan makanan lainnya.
Kegiatan
produksi Tepung Kimpul Termodifikasi di XX melibatkan XX sebagai wadah kegiatan
dan koordinasi antar petani. Apabila tepung kimpul termodifikasi dapat
diproduksi, selain dapat dikonsumsi sendiri, dapat juga dipasarkan kepada
masyarakat di sekitar XX. Tepung Kimpul Termodifikasi dapat dipasarkan dengan
harga yang lebih murah daripada tepung terigu, dan petani tetap memperoleh
keuntungan yang lebih layak dibandingkan menjual dalam keadaan basah.
H.
METODE
PELAKSANAAN
Program Kreatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat
(PKM-M) ini, bertujuan mentransfer pengetahuan dan teknologi sekaligus memberi
pembiayaan program dengan menggunakan anggaran yang diberikan Dikti. Untuk
melakukan hal tersebut, dilakukan kerjasama kemitraan dengan Kelompok Tani Karya
Manunggal.
Pelaksanaan program pelatihan pemanfaatan talas kimpul
menjadi tepung talas kimpul termodifikasi ini dapat dijabarkan dalam tiga
tahap. Tahap pertama adalah tahap survei potensi produksi talas kimpul dan ketersediaan umbi talas kimpul. Tahap kedua
adalah tahap penyuluhan, pelatihan dan pendampingan kepada petani anggota XXtentang
teknologi pengolahan yang akan diterapkan. Tahap ketiga adalah proses produksi
Tepung Kimpul Termodifikasi.
Tahap Survei
Tahap survei ini dilaksanakan untuk mengetahui jumlah
produksi dan ketersediaan talas kimpul di XX. Hasil survei ini digunakan untuk
menentukan periode produksi dan kapasitas alat yang akan digunakan. Metode
survei yang digunakan adalah melalui survei lapangan kepada petani anggota Kelompok
Tani Karya Manunggal.
Setelah dilakukan survey, didapatkan hasil yaitu jumlah
produksi talas kimpul di XX adalah + 40 ton/tahun. Penanaman talas
kimpul di XX dilakukan tidak secara bersamaan sehingga masa panennya juga tidak
bersamaan. Umbi kimpul dapat tersedia setiap bulan dalam jumlah + 3,3
ton. Dari jumlah tersebut, 3 ton umbi akan diproses menjadi Tepung Kimpul
Termodifikasi.
Tahap Penyuluhan, Pelatihan dan
Pendampingan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan dalam suatu forum
diskusi di Balai Desa dengan pembicara dari
pihak pengusul Program Kreativitas Mahasiswa pengabdian masyarakat
(PKM-M). Hal yang dilakukan pada tahap penyuluhan adalah mengenalkan teknologi
pengolahan talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi. Teknologi tersebut
meliputi alat, bahan yang dibutuhkan dan langkah produksi Tepung Kimpul
Termodifikasi. Tujuan yang akan dicapai adalah petani anggota XXdapat
mengetahui dan mempraktekkan cara pengolahan umbi talas kimpul menjadi Tepung
Kimpul Termodifikasi.
Lokasi produksi
telah disediakan oleh pihak pemerintahan XX dan telah memenuhi kriteria ideal.
Lokasi produksi yang ideal adalah suatu bangunan permanen yang telah memiliki
jaringan listrik, jaringan air dan saluran penanganan limbah.
Alat-alat yang digunakan dalam pembuatan Tepung
Kimpul Termodifikasi yaitu sikat/brush, mesin
pemotong (slasher), drum plastik,
penyaring ukuran 60 mesh, neraca duduk kapasitas
100kg. Peralatan laboratorium yang dibutuhkan yaitu gelas ukur, pengaduk dan
corong. Peralatan dapur yang dibutuhkan berupa pisau, bak plastik dan gayung.
Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Tepung
Kimpul Termodifikasi yaitu umbi talas kimpul, air, starter bakteri asam laktat, natrium
metabisulfit, asam sitrat dan asam askorbat. Bakteri asam laktat
berperan memecah rantai molekul peptin yang ada pada umbi talas kimpul menjadi
molekul yang lebih sederhana, sehingga menghasilkan tepung yang mempunyai
kemiripan tekstur dengan terigu. Natrium
metabisulfit merupakan zat pengawet makanan yang dapat mempertahankan
kualitas bahan pangan. Asam sitrat adalah zat kimia yang padat menghilangkan bau khas umbi kimpul sehingga
produk yang dihasilkan memiliki bau yang netral. Asam askorbat atau vitamin C adalah salah satu jenis anti oksidan yang dapat mencegah
atau menghambat reaksi pencoklatan (browning
reaction) pada umbi talas saat tahap pengeringan sehingga produk yang
dihasilkan memiliki warna yang putih. (Suismono et al, 2007).
Dari 1kg umbi talas kimpul dapat menghasilkan 350-400
gr Tepung Kimpul Termodifikasi (Suismono et al, 2007). Jumlah rendemen yang diperoleh dipengaruhi oleh umur dan kadar air umbi.
Umbi berumur tua dan dipanen pada musim kemarau memiliki kandungan karbohidrat
tertinggi.
Menurut (Suismono et
al, 2007), langkah produksi Tepung Kimpul Termodifikasi adalah :
1.
Mensortasi umbi talas kimpul. Umbi yang digunakan adalah
umbi yang sehat, besar, tidak ada luka dan masih segar.
2.
Membersihkan umbi talas kimpul dari sisa tanah dan
kotoran dengan sikat/brush dan air.
3.
Mengupas kulit umbi talas kimpul dengan pisau kupas.
4.
Membersihkan umbi dari sisa-sisa kotoran yang masih
tertinggal dengan sikat/brush dan air.
5.
Memotong umbi talas kimpul menjadi potongan setebal 0,5 -
1 cm.
6.
Memasukkan potongan umbi talas kimpul ke dalam tong.
7.
Merendam potongan umbi talas kimpul dalam larutan starter
bakteri asam laktat (BAL) sebanyak 5 ml/liter air selama 6 jam.
8.
Merendam ke dalam air yang ditambahkan natrium
metabisulfit dan asam askorbat
dan asam sitrat masing – masing 3ml/liter air selama 30 menit
9.
Meniriskan kembali potongan umbi talas kimpul.
10.
Menjemur potongan umbi kimpul dibawah terik matahari
selama 3 hari (kadar air 12-14%).
11.
Menggiling potongan umbi talas kimpul yang telah kering
dengan mesin penepung beras.
12.
Mengayak tepung dengan saringan 60 mesh, sehingga
didapatkan tepung yang halus dan seragam.
13.
Mengemas Tepung Kimpul Termodifikasi dalam kemasan 500
gr.
Tahap Produksi
Periode produksi Tepung Kimpul Termodifikasi adalah satu
kali setiap dua minggu dengan kapasitas 1,5 ton/periode produksi atau 3
ton/bulan. Pada setiap produksi, tenaga kerja yang dibutuhkan adalah 10 orang.
Tenaga kerja berasal dari anggota XXmelalui sistem gilir. Sehingga setiap
bulan, XXdapat menghasilkan 1,05 – 1,2 ton Tepung Kimpul Termodifikasi. Total
nilai ekonomi yang diperoleh dengan asumsi harga per kilogram Tepung Kimpul
Termodifikasi Rp. 8000,00 adalah Rp. 8.400.000,00 hingga Rp. 9.600.000,00.
I. JADWAL KEGIATAN PROGRAM
Kegiatan ini dilaksanakan dalam waktu 3
(tiga) bulan. Jadwal kegiatan disajikan pada tabel 2.
Tabel 2. Jadwal Kegiatan
|
No
|
Jenis Kegiatan
|
Tahun 2013
|
|||||||||||
|
Bulan ke-1
|
Bulan ke-2
|
Bulan ke-3
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1
|
Tahap
persiapan
a. Studi pustaka
b. Menjalin kemitraan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Tahap
Survei
a. Survei produksi
b. Survei ketersediaan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Tahap
Penyuluhan, Pelatihan, dan Pendampingan
a. Tahap I
b. Tahap II
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Tahap
Produksi
a. Persiapan sarana
b. Produksi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Tahap
Pelaporan
a. Penulisan laporan
b. Penyerahan laporan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
J. RANCANGAN BIAYA
Rencana
anggaran biaya untuk melaksanakan kegiatan ini
adalah Rp. XXdengan
perincian pada Tabel 3.
Tabel 3. Rancangan Biaya
|
No
|
Jenis alat/bahan
|
volume
|
Satuan
|
Harga Satuan (Rp.)
|
Biaya (Rp.)
|
|
A.
|
PERALATAN
PENUNJANG PKM
|
||||
|
1
|
Sikat
(brush)
|
10
|
Buah
|
|
|
|
2
|
Mesing
Pemotong (slasher)
|
2
|
Buah
|
|
|
|
3
|
Drum
Plastik kapasitas 100 kg
|
15
|
Buah
|
|
|
|
4
|
Timbangan
duduk 100 kg
|
1
|
Buah
|
|
|
|
5
|
Penyaring
60 mesh 50x50 cm
|
10
|
Buah
|
|
|
|
6
|
Gelas
Ukur 1000 ml
|
2
|
Buah
|
|
|
|
7
|
Corong
plastik
|
2
|
Buah
|
|
|
|
8
|
Pengaduk
|
2
|
Buah
|
|
|
|
9
|
Pisau
Kupas
|
10
|
Buah
|
|
|
|
10
|
Bak
plastik 50 liter
|
10
|
Buah
|
|
|
|
11
|
Gayung
plastik
|
5
|
Buah
|
|
|
|
Jumlah Biaya
|
|
||||
|
B.
|
BAHAN
HABIS PAKAI
|
||||
|
1
|
Umbi
talas kimpul
|
1.500
|
kilogram
|
|
|
|
2
|
Starter
Bakteri Asam Laktat
|
5
|
liter
|
|
|
|
3
|
Natrium metabisulfit
|
3
|
liter
|
|
|
|
4
|
Asam
askorbat
|
3
|
kilogram
|
|
|
|
5
|
Plastik
kemasan 500 gram
|
35
|
Pcs.
|
|
|
|
Jumlah biaya
|
|
||||
|
C.
|
PERJALANAN
|
||||
|
1
|
Yogyakarta
– XX
|
5
|
kali
|
|
|
|
2
|
Survey
bahan baku
|
3
|
kali
|
|
|
|
3
|
Perjalanan
pembelian alat
|
3
|
kali
|
|
|
|
Jumlah biaya
|
|
||||
|
D.
|
LAIN
- LAIN
|
|
|
|
|
|
1
|
Biaya
print laporan
|
100
|
lembar
|
|
|
|
2
|
Jilid
laporan
|
4
|
buah
|
|
|
|
3
|
Konsumsi
1. Pertemuan tahap survei
2. Pertemuan tahap
penyuluhan, pelatihan
dan pendampingan
|
2
2
|
kali
kali
|
|
|
|
Jumlah biaya
|
|
||||
|
Jumlah biaya yang diperlukan (A + B + C + D)
|
|
||||
GAMBARAN TEKNOLOGI YANG DITERAPKEMBANGKAN DALAM
PENGOLAHAN TALAS KIMPUL MENJADI TEPUNG KIMPUL TERMODIFIKASI
SURAT PERNYATAAN
KESEDIAAN BEKERJASAMA
DENAH LOKASI MITRA KERJA







0 komentar:
Posting Komentar