Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

LAPORAN AKHIR PKM M PENGABDIAN MASYARAKAT





LAPORAN AKHIR
PELATIHAN PEMANFAATAN TALAS KIMPUL
SEBAGAI BAHAN BAKU TEPUNG KIMPUL TERMODIFIKASI
DI KELOMPOK TANI XX
PKM – M


Diusulkan oleh:
Erick Firmansyah  (10-13872)
Kukuh Andi Luasmoko (10-13524)
Sahid Tri Widagdo (10-13533)




INSTITUT PERTANIAN STIPER
YOGYAKARTA
2013


HALAMAN PENGESAHAN

ABSTRAK
Ketahanan pangan adalah indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Sebesar  97% penduduk Indonesia adalah konsumen beras dengan rata-rata konsumsi 139 kg/kapita/tahun. Salah satu kebijakan pembangunan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi dan subtitusi jenis bahan pangan. Tanaman umbi-umbian berpotensi menjadi bahan pangan subtitusi beras.
Salah satu jenis umbi yang potensial sebagai sumber karbohidrat adalah talas.  memiliki potensi produksi talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.) 40 ton/tahun. Pengolahan pasca panen belum dilakukan karena terkendala modal dan ketrampilan. Talas kimpul berpotensi diolah menjadi tepung kimpul termodifikasi yang memiliki kandungan gizi dan tekstur yang serupa dengan terigu.
Melalui Program Kreaatifitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat yang bermitra dengan XX diharapkan masyarakat mampu mengusai ketrampilan pengolahan tepung kimpul termodifikasi dan memproduksinya. Pada akhirnya, kesejahteraan masyarakat dan ketahanan pangan akan tercapai.
Program telah berhasil dilaksanakan dengan cukup baik dengan indikator tercapainya tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Masyarakat anggota XXtelah memproduksi tepung talas kimpul termodifikasi secara mandiri. Dalam hal pemasaran telah dilakukan kerjasama dengan produsen oleh-oleh khas . Adapun kendala yang ditemui adalah pencairan dana yang sangat terlambat.

Kata kunci : Xanthosoma sagitifolium Schott., kimpul, diversifikasi, pascapanen,


I.       PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Ketahanan pangan merupakan indikator keberhasilan pembangunan suatu negara. Jumlah penduduk rawan pangan masih cukup besar, pada tahun 2011 sebesar 13% dari jumlah total penduduk Indonesia atau kurang lebih 30 juta orang (Suryana, 2011). Sebagian besar masyarakat Indonesia selama ini memenuhi kebutuhan pangan sebagai sumber karbohidrat berupa beras. Salah satu kebijakan pembangunan pangan dalam mencapai ketahanan pangan adalah melalui diversifikasi pangan (Husodo dan Muchtadi, 2004).
Menurut Kasno (2006) tanaman umbi-umbian merupakan penghasil protein nabati dan karbohidrat yang efisien, murah dan dapat digunakan sebagai subtitusi bahan pangan pokok seperti beras dan terigu.
Belah adalah desa paling barat Kabupaten .  memiliki sumber bahan pangan yang potensial dikembangkan, antara lain adalah umbi-umbian seperti talas kimpul (Xanthosoma sagitifolium Schott.).
Sebagian besar hasil talas kimpul di  dijual langsung dalam bentuk mentah tanpa melalui pengolahan pasca panen. Padahal apabila dikembangkan, talas kimpul dapat dimanfaatkan untuk subtitusi beras dan mendatangkan keuntungan ekonomis bagi masyarakat.
Pada saat ini telah ditemukan teknologi pengolahan talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi. Pada awalnya teknologi ini diterapkan untuk mengolah singkong menjadi Mocaf (Modified Cassava Fluor.
Dewasa ini, Kelompok Tani menjadi organisasi strategis dalam menmpercepat terwujudnya kesejahteraan petani di pedesaan. Melalui kegiatan pelatihan ini, XXdiharapkan mampu memperbaiki aspek yang menjadi kendala pengolahan pasca panen. Pada akhirnya XXdapat menjadi motor penggerak kegiatan sehingga akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Perumusan Masalah
Angka ketergantungan terhadap beras sebagai sumber karbohidrat masih tinggi.  dan XXberpotensi memproduksi tepung kimpul termodifikasi, namun masih mengalami kendala pengetahuan, teknologi dan modal pengadaan sarana produksi sehingga diperlukan bantuan pelatihan dan pengadaan sarana produksi.
Tujuan Program
Dengan dilaksanakannya program ini diharapkan :
1.    Petani anggota XXdapat menguasai pengetahuan dan teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi tepung kimpul termodifikasi.
2.    Meningkatkan kesejahteraan petani  melalui peningkatan harga jual produk olahan talas kimpul berupa tepung kimpul termodifikasi.
3.    Mendukung terciptanya ketahanan pangan melalui program diversifikasi pangan.


Luaran yang Diharapkan
Terciptanya keterampilan petani anggota XX dalam mengolah umbi talas kimpul menjadi produk Tepung Kimpul Termodifikasi.
Kegunaan Program
1.    Dari sisi ekonomi : Meningkatkan nilai ekonomi komoditas talas kimpul.
2.    Dari sisi IPTEK : Dikuasainya teknologi pengolahan umbi talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi kepada petani.
3.    Dari sisi sosial : Wujud kontribusi masyarakat terhadap Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2009 yang mengamanatkan percepatan penganekaragaman konsumsi pangan berbasis sumber daya lokal dan kebijakan diversifikasi pangan yang mendukung terciptanya ketahanan pangan nasional.
II.      GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
Belah merupakan suatu desa di Kecamatan Donorojo yang terletak  + 41 km dari kota . Secara administratif,  terbagi menjadi 12 dusun dan setiap dusun terdiri dari 40 – 70 kepala keluarga. Penduduk  berjumlah 2.769 orang. Makanan pokok masyarakat  adalah beras. (Monografi Desa, 2011).
Sekitar 80% penduduk  bermata pencaharian sebagai petani. Petani di  diwadahi dalam XX. Selama ini XXberperan dalam menyediakan sarana produksi pertanian namun belum berperan dalam penanganan pasca panen. XXdidirikan pada tahun 2003 dilandasi atas kebutuhan petani terhadap suatu wadah yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraannya. Setelah memasuki tahun ke 10 sejak berdirinya, XXtelah mengalami banyak perkembangan. Saat ini memiliki 146 anggota, kantor operasional serta gudang. Untuk menjalankan kegiatan sehari – hari, XXdikelola oleh seorang ketua, sekretaris, bendahara, dan beberapa kepala bidang.
Komoditas utama yang menjadi andalan sumber pendapatan petani adalah palawija dan cengkih. Petani juga menanam beberapa jenis tanaman semusim sebagai hasil sampingan, salah satu yang banyak ditanam adalah talas kimpul. Pengolahan pasca panen umbi talas kimpul masih belum dilakukan, selama ini hasil talas kimpul dijual langsung dalam keadaan basah sehingga nilai jualnya rendah.
III.    METODE PENDEKATAN
Tahap Survei
Tahap survei ini dilaksanakan untuk mengetahui jumlah produksi dan ketersediaan talas kimpul di . Hasil survei ini digunakan untuk menentukan periode produksi dan kapasitas alat yang akan digunakan.
Setelah dilakukan survey, didapatkan hasil yaitu jumlah produksi talas kimpul di  adalah + 40 ton/tahun. Penanaman talas kimpul di  dilakukan tidak secara bersamaan sehingga masa panennya juga tidak bersamaan. Umbi kimpul dapat tersedia setiap bulan dalam jumlah + 3,3 ton.
Tahap Penyuluhan, Pelatihan dan Pendampingan
Kegiatan penyuluhan ini dilakukan dalam suatu forum diskusi dengan pembicara dari  pihak pengusul Program Kreativitas Mahasiswa pengabdian masyarakat (PKM-M). Hal yang dilakukan pada tahap penyuluhan adalah mengenalkan teknologi pengolahan talas kimpul menjadi Tepung Kimpul Termodifikasi. Teknologi tersebut meliputi alat, bahan yang dibutuhkan dan langkah produksi Tepung Kimpul Termodifikasi.
Tahap Produksi
Periode produksi Tepung Kimpul Termodifikasi adalah satu kali setiap dua minggu dengan kapasitas 1,5 ton/periode produksi atau 3 ton/bulan. Sehingga setiap bulan, XXdapat menghasilkan 1,05 – 1,2 ton Tepung Kimpul Termodifikasi.
IV.    PELAKSANAAN PROGRAM
Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Pelaksanaan program dimulai pada tanggal 23 Maret 2013 hingga tanggal 20 Juni 2013. Program dilaksanakan di beberapa tempat sesuai tahapan pendekatan.
Tahapan Pelaksanaan
Program dilaksanakan melalui tiga tahapan. Tahap pertama adalah survei untuk inventarisasi kesediaan bahan baku. Tahap kedua adalah penyuluhan untuk mensosialisasikan program yang akan dijalankan. Tahap ketiga adalah pembelian bahan dan peralatan yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program. Tahap keempat adalah pelatihan dan pendampingan sebagai upaya memberi ketrampilan dan tahap terakhir adalah produksi tepung talas kimpul termodifikasi secara mandiri oleh anggota Kelompok Tani.

Rekapitulasi Rancangan dan Realisasi Biaya
Rancangan besaran dan penggunaan biaya pada tahap usulan adalah sebagai berikut :
No
Jenis alat/bahan
Volume
Satuan
Harga Satuan (Rp.)
Biaya (Rp.)
A.
PERALATAN PENUNJANG PKM
1
Sikat (brush)
10
Buah


2
Mesing Pemotong (slasher)
2
Buah


3
Drum Plastik kapasitas 100 kg
15
Buah


4
Timbangan duduk 100 kg
1
Buah


5
Penyaring 60 mesh 50x50 cm
10
Buah


6
Gelas Ukur 1000 ml
2
Buah


7
Corong plastik
2
Buah


8
Pengaduk
2
Buah


9
Pisau Kupas
10
Buah


10
Bak plastik 50 liter
10
Buah


11
Gayung plastik
5
Buah


Jumlah Biaya

B.
BAHAN HABIS PAKAI
1
Umbi talas kimpul
1.500
kilogram


2
Starter Bakteri Asam Laktat
5
liter


3
Natrium metabisulfit
3
liter


4
Asam askorbat
3
kilogram


5
Plastik kemasan 500 gram
35
Pcs.


Jumlah biaya

C.
PERJALANAN
1
Yogyakarta –
5
kali


2
Survey bahan baku
3
kali


3
Perjalanan pembelian alat
3
kali


Jumlah biaya

D.
LAIN - LAIN




1
Biaya print laporan
100
lembar


2
Jilid laporan
4
buah


3
Konsumsi
1.    Pertemuan tahap survei
2.    Pertemuan tahap penyuluhan, pelatihan
dan pendampingan
2
2


kali
kali




Jumlah biaya

Jumlah biaya Keseluruhan (A + B + C + D)





Adapun besaran biaya yang disetujui oleh Dikti yaitu sebesar Rp. XX. Pada akhirnya rancangan dan realisasi penggunaan biaya disesuaikan dengan jumlah biaya yang disetujui tersebut. Dikarenakan pencairan dana dari Dikti terlambat hingga saat Laporan Akhir ini ditulis maka pengusul program terlebih dahulu menggunakan dana sponsor.
Rincian realisasi penggunaan biaya pada program ini adalah sebagai berikut :
Tanggal
Kegiatan
Jenis
Pembelanjaan
Jumlah
Satuan
Harga
23/03/2013
Survei
perjalanan
Yogyakarta –
3
kali

Survey bahan baku
2
kali

15/04/2013
Belanja peralatan
Belanja bahan
Perjalanan pembelian alat
4
kali

Sikat (brush)
10
buah

Mesing Pemotong (slasher)
2
buah

Drum Plastik kapasitas 100 kg
10
buah

Timbangan duduk 100 kg
1
buah

Penyaring 60 mesh 50x50 cm
10
buah

Gelas Ukur 1000 ml
2
buah

Corong plastik
2
buah

Pengaduk
2
buah

Pisau Kupas
10
buah

Bak plastik 50 liter
10
buah

Gayung plastik
5
buah

Umbi talas kimpul
1.500
kg

Starter Bakteri Asam Laktat
1
liter

Natrium metabisulfit
1
kg

Asam askorbat
1
liter

Plastik kemasan 500 gram
35
pak

Print label kemasan
500
lembar

22/04/2013
Penyuluhan
Belanja barang non operasional
Konsumsi pertemuan
1
kali

27/04/2013
Pelatihan
Belanja barang non operasional
Konsumsi pertemuan
1
kali

05/05/2013
Pendampingan dan produksi
Belanja barang non operasional
Konsumsi pertemuan
1
kali

20/06/2013
Pelaporan
Belanja bahan
Akses internet
3
kali

Penjilidan usulan program
1
buah

Sewa kamera
4
kali

Keping VCD
2
buah

Burning data
2
kali

JUMLAH


V. HASIL DAN PEMBAHASAN
Program Pelatihan Pemanfaatan Talas Kimpul sebagai Bahan Baku Tepung  Kimpul Termodifikasi di Kelompok Tani XX telah terealisasi sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang disusun pada proposal usulan. Keseluruhan tahap pelaksanaan, mulai dari tahap survei, tahap penyuluhan, pelatihan dan pendampingan  serta tahap produksi dapat dilaksanakan dengan baik.
Dari pelaksanaan program ini keluaran yang dihasilkan dinilai berdasarkan penambahan keterampilan anggota XXdalam mengolah umbi talas kimpul menjadi produk Tepung Kimpul Termodifikasi. Berdasarkan evaluasi yang dilakukan oleh tim pengusul terhadap peserta program dapat disimpulkan bahwa anggota XXtelah memiliki ketrampilan yang cukup untuk menjalankan program sesuai dengan metode produksi yang diberikan.
Peningkatan keterampilan yang diperoleh selanjutnya dapat diterapkan oleh anggota XXuntuk mewujudkan tujuan dilaksanakannya program ini sebagaimana disebutkan dalam bab Pendahuluan.
Permasalahan yang ditemui dan langkah penyelesaiannya selama pelaksanaan Program ini dapat dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu :
a.    Administratif :
Secara administratif, tidak ada permasalahan yang serius karena format kerjasama dengan mitra (XX) telah jelas.
b.    Teknis :
Secara teknis kendala yang dihadapi adalah kesulitan dalam menentukan waktu yang tepat untuk pelatihan dikarenakan kesibukan masing-masing anggota XX. Kendala tersebut dapat diatasi melalui komunikasi yang intensif dengan pengurus XX.
c.    Organisasi Pelaksana
Ketua pelaksana dalam hal ini bekerjasama dengan anggota tim selalu melakukan komunikasi yang intesif dengan XXserta dosen pembimbing. Dengan adanya komunikasi yang baik maka program dapat berjalan sesuai rencana.
d.   Keuangan
Secara keseluruhan aspek keuangan adalah kendala terbesar karena lambatnya pencairan biaya dari Dikti. Bahkan hingga Laporan Akhir ini dibuat biaya dari Dikti belum diterima mahasiswa pengusul. Kendala tersebut diatasi dengan melibatkan sponsor untuk membiayai program terlebih dahulu.
VI. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan :
1.      Masyarakat  anggota XXmerasa sangat terbantu atas adanya program pemberdayaan dari PKM ini.
2.      Program PKMM Pemanfaatan talas kimpul sebagai bahan tepung kimpul termodifikasi dapat diterima dan selanjutnya dapat diteruskan secara mandiri oleh anggota XXdi .

Saran :
1.      Diharapkan pencairan dana yang disetujui dilaksanakan sebelum program dijalankan, sehingga tidak terjadi permasalahan dan hambatan bagi mahasiswa pengusul.
2.      Pelaksanaan monev dan jadwal-jadwal lainnya hendaknya diumumkan jauh-jauh hari sehingga mahasiswa pengusul dapat mempersiapkan diri dengan baik.

Dokumentasi Kegiatan

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS